Salam Ganesha – Bicara soal kepemimpinan perempuan di bidang Sains, Teknologi, Rekayasa, Seni, dan Matematika (STEAM) bukan lagi sekadar pelengkap kuota gender. Hal tersebut telah bergeser menjadi sebuah strategi mutlak untuk kemajuan bangsa. Semangat inilah yang mendominasi atmosfer Gedung Graha Irama, Jakarta Selatan, saat Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITB (PP IA ITB) berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Salam Ganesha menggelar forum nasional bertajuk “ITB Women in STEAM: Lead, Build, Impact”. Dihadiri oleh lebih dari 100 peserta, forum ini sukses menjadi ruang temu yang konkret untuk memperkuat ekosistem dan peran perempuan di sektor-sektor strategis tanah air.
Acara dibuka dengan penuh energi oleh Ketua Panitia Vanny Wulandari Katili, S.T., Ketua Umum PP IA ITB Agustin Peranginangin, S.T., dan Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. Ketiganya membawa pesan senada bahwa jaringan alumni ITB yang tersebar di berbagai sektor vital nasional adalah sebuah modal sosial yang besar. Tugas bersama sekarang bukan lagi hanya merayakannya dalam reuni, melainkan mengaktifkannya secara nyata agar berdampak langsung pada masyarakat.
Salah satu momen krusial dalam forum ini adalah penandatanganan dua Nota Kesepahaman (MoU) bersejarah. Kerja sama pertama dilakukan antara IA ITB, ITB, Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Kolaborasi ini berfokus pada transformasi Maluku Utara yang saat ini dipimpin oleh gubernur perempuan pertamanya, Sherly Tjoanda dari ekonomi berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis pengetahuan, dengan salah satu agenda besar berupa rencana pembangunan Politeknik Maluku Utara. Bersamaan dengan itu, ditandatangani pula MoU kedua antara IA ITB dan Korporasi ITB Kinarya yang bertujuan memperkuat ekosistem bisnis alumni sebagai penggerak kolaborasi yang aktif dan berkelanjutan.
Gubernur Sherly Tjoanda, yang hadir membawakan keynote speech bertema Women Leadership in Driving Regional Innovation & Inclusive Growth, menguraikan bagaimana kepemimpinan perempuan bisa menjadi motor inovasi di daerah. Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa perempuan di bidang STEAM adalah investasi terbesar Indonesia untuk masa depan.
Forum ini juga menghadirkan diskusi panel mendalam yang dibagi menjadi dua sesi utama bersama para tokoh perempuan inspiratif. Sesi pertama bertajuk From Policy to Impact dipandu oleh Viviani Suhar untuk membedah bagaimana sebuah kebijakan bisa benar-benar membumi dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Sesi ini menghadirkan diskusi hangat bersama Sherly Tjoanda, Ir. Yani Panigoro, M.M. selaku Komisaris PT Medco Energi dan Ketua MWA ITB periode 2020–2024, Prof. Dr. Dea Indriani Astuti, S.Si. selaku Wakil Rektor Sumberdaya ITB, serta Rosa Permata Sari dari Pertamina yang juga menjabat sebagai Ketua IAMIGAS sekaligus Sekjen PP IA ITB.
Berlanjut ke sesi kedua, diskusi beralih ke tema From Research to Real Impact yang dipandu oleh Iga Andita Lestari, S.T., M.P.A. Sesi ini berfokus pada tantangan hilirisasi riset, pengembangan infrastruktur digital, serta bagaimana alumni perempuan bisa menjadi jembatan hidup antara laboratorium riset dan kebutuhan riil masyarakat. Topik ini dikupas tuntas bersama pakar farmasi yang masuk dalam jajaran World 2% Top Scientist Prof. Dr. Heni Rachmawati, Apt., M.Si., VP Integrated Portofolio Management Ervia Tissyaraksita Devi, Deputi Kebijakan Riset & Inovasi BRIN Dr. Ir. Boediastoeti Ontowirjo, M.B.A., serta Wakil Ketua Umum PP IA ITB Aliya Rajasa Baskoro Yudhoyono.
Lewat rangkaian forum ini, Ikatan Alumni ITB dan Salam Ganesha kembali membuktikan bahwa ketika perempuan diberikan ruang untuk memimpin dan membangun, maka dampak yang dihasilkan tidak hanya akan mengubah sebuah organisasi, melainkan mampu menggerakkan transformasi satu wilayah, bahkan satu bangsa.



